Seperti biasa pada Hari Raya Idul Fitri, aku berkumpul
bersama keluarga besar sambil menyantap hidangan khas lebaran. Ironisnya di hari lebaran sebagian jiwaku
kosong, aku merindukan my late brother:
Rezha Refiadi. Dan sejujurnya, kerinduan semakin menjadi pada hari ini, saat
seharusnya dia ada di antara keluarga besarku.
Aku memanggilnya Aa, my
eldest brother, yang sudah kembali ke pangkuan Allah SWT 4 tahun yang lalu.
Sejak kembali dari Bermuda, untuk mengikuti program pertukaran pelajar dari
Rotary Club, Aa divonis dokter menderita diabetes. Gaya hidupnya yang kurang
terjaga selama di Bermuda memberikannya penyakit diabetes pada usia 17 tahun.
Dan selama 17 tahun pula, Aa berjuang melawan diabetes yang
perlahan terus menggerogoti fisiknya. Dari mata, kaki, dan terakhir fungsi
ginjalnya, sebelum akhirnya Aa dipanggil Yang Kuasa.
He is the
light of my life, bahkan hingga saat ini.