Catatan Umroh April 2018: 4 Hari 3 Malam di Makkah


Tulisan ini merupakan rangkaian catatan mengenai perjalanan Umroh yang saya lakukan bersama mr.husband pada pertengahan April 2018. Teman-teman silahkan lihat di IG @tesyasblog dimana kami juga sudah sharing hashtag #CatatanUmroh. Tulisan di posting ini adalah tambahan dari apa yang sudah kami share via IG.

Semoga catatan random ini bisa memberikan gambaran khususnya untuk teman-teman Muslim yang belum pernah pergi ke Tanah Suci. Dan untuk teman-teman yang sudah pergi ke sana dan ingin mencurahkan rasa kangennya, saya tunggu di kolom komentar ya :)


Suatu pagi di pelataran Masjidil Haram


Proses Imigrasi di Terminal Haji Jeddah

Setiap kali traveling, salah satu hal yang sangat saya tidak suka adalah antre proses imigrasi. Hong Kong dan Osaka adalah dua bandara dengan antrean yang imigrasi panjang. Namun ternyata tidak ada artinya dibandingkan proses antre imigrasi di Jeddah. Kami tiba pukul 2 pagi, estimasi saya pada dini hari terminal haji Jeddah tidak akan penuh.

Turun dari pesawat Saudi Airlines, kami berdesak-desakan naik bus ke terminal haji, dengan menggunakan pakaian ihrom. Setibanya di sana, kami belum boleh langsung proses imigrasi, kami harus menunggu di satu ruangan bersama satu rombongan dalam pesawat kami. 

"Beli nomor Arab Bapak Ibu, 200 ribu saja!" adalah teriakan khas malam itu. Rupanya petugas wanita di bandara adalah orang Indonesia, dan mereka menawarkan jamaah untuk mengganti dengan SIM card Arab. Saya sudah membeli Paket Umroh dari Telkomsel, jadi saya hanya melihat betapa sibuknya petugas bandara ini jualan SIM Card.

Tempat tunggunya cukup layak, kecuali untuk bagian toilet. Hanya ada tiga toilet untuk ratusan jamaah umroh wanita yang menunggu di ruangan itu. Saya memerlukan waktu 30 menit hanya untuk antre buang air kecil.

Group yang lain, menunggu bersama kami


Setelah sekitar satu jam, kami diperbolehkan masuk ke area imigrasi dimana kami menunggu lagi sekitar 1 jam untuk antre proses imigrasi. Total waktu yang dibutuhkan dari turun pesawat adalah 2,5 jam, hingga kami bisa keluar terminal haji dengan bagasi kami.

Menunggu giliran untuk naik bus menuju kota Makkah


Saat perjalanan pulang ke Indonesia, kami kembali check-in di terminal haji tengah malam. Alhamdulillah, tidak ada antrean berarti saat proses imigrasi. Hanya saja saat masuk ke ruang tunggu, terjadi penumpukan pesawat, sehingga kami pun duduk di lantai. Kami nikmati saja dengan foto-foto dan berkenalan dengan seorang wanita dari Irak.

Duduk di lantai bersama jamaah umroh dari negara lain, saat menunggu giliran boarding



Ibadah Umroh: Tawaf Keliling Kabah dan Jalan Di Antara Bukit Shofa dan Marwah

Berapa hari biasanya jamaah umroh asal Indonesia pergi untuk satu kali perjalanan umroh? Rata-rata mungkin 9 hari ya dengan perjalanan. Namun sesungguhnya ibadah umroh nya sendiri hanya sekitar 2-3 jam.

Ibadah Umroh terdiri dari 4 hal utama:
1. Mengambil Miqat, mengenakan pakaian ihrom dan berniat umroh.
2. Keliling Kabah 7 putaran.
3. Sai: jalan kaki bolak-balik di antara bukit Shofa dan Marwah.
4. Tahalul: memotong 3 helai rambut, saat jalan kaki antara bukit Shofa dan Marwah sudah selesai.

Lalu kenapa butuh hingga 9 hari? Karena selain Ibadah umroh yang utama, kita menikmati sholat lima waktu di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kita juga melakukan ziarah, khususnya saat di Madinnah. Di Makkah sendiri kami sempat city tour, salah satunya untuk melihat padang Arafah, tempat dimana jamaah Haji wukuf pada tanggal 9 Dzulhijah.


Deretan tenda jamaah haji yang kami lalui di Arafah


Ibadah umroh kami lakukan dua kali, pertama saat tiba dari Indonesia. Jadi setelah mendarat jam 2 dini hari seperti cerita di atas, kami ke hotel untuk makan pagi dan istirahat sebentar, lalu sekitar jam 9 pagi melaksanakan rangkaian ibadah umroh hingga jam 12.00.

Pada umroh pertama, saat tawaf keliling Kabah, kondisi masih kondusif. Padat, namun kami bisa melewati dengan aman tentram. Setelah berdoa di Multazam (lurusan di antara batu Hajar Aswad dan pintu Kabah, merupakan tempat berdoa terbaik), kami lanjutkan perjalanan ke bukit Shofa dan Marwah, yang masih merupakan bagian dari Masjidil Haram. Disitulah saya takjub dengan lautan manusia yang saya lihat.


Di antara lautan manusia kami berjalan

Jangan bayangkan sebuah bukit sungguhan, Shofa dan Marwah sudah dilapisi tegel, namun di kedua ujungnya jalanan menanjak seperti akan naik bukit. Area ini tertutup atap dan banyak kipas angin di kiri kanan tembok. Walaupun berjalan berdesakan, angin dari kipas terasa sejuk.

Cape?? Banget!!

Bayangkan saja kalau harus berjalan sekitar 3 jam non stop. Maka latihan fisik sebelum umroh adalah hal yang harus dilakukan. Berjalanlah minimal 3 KM sehari, agar kondisi fisik prima.

Dan saat jalan kaki di antara bukit Shofa dan Marwah selesai, rasanya nikmat sekali! Kami memanjatkan doa bersama ratusan orang lain yang juga telah selesai melaksanakan umroh. Terimakasih Ya Alloh, Engkau perkenankan kami menjalankan ibadah umroh siang itu. 



Umroh Badal: Niat Umroh Untuk Orang Lain

Ada berbagai paham mengenai ibadah umroh, ada yang berpendapat sekali saja cukup. Namun ada juga yang berpendapat boleh dari sekali. Group umroh kami memberikan kesempatan dua kali umroh yang dipimpin oleh pembimbing kami yaitu, Ustad Hasan.

Untuk umroh kedua, kami melakukan miqot di Masjid Jirannah yang berlokasi sekitar 26KM dari kota Makkah. Saat kami hendak naik bus setelah lawatan ke Jabal Rahmah, Pak Ustad berkata kepada saya, "Yang mau ikut umroh, silahkan wudhu di sebelah sana" sambil menunjukan toilet dan tempat wudhu ala kadarnya.


Siang yang terik di Jabal Rahmah



Umroh kedua ini adalah opsional. Saat itu kondisi badan saya sedang lemah karena terlalu lelah, tenggorokan mulai sakit, dan panas yang membara membuat saya drop. Mr.husband terkena serangan asam urat setelah umroh pertama.

Tapi saya teringat kisah bagaimana saya bisa naik haji tahun 2003, 15 tahun yang lalu.

Teman-teman tahu kan motto saya "Travel Begins With A Dream"? Saya sudah ingin naik haji sejak di bangku SMA. Saya hanya bisa bermimpi. Dan suatu hari, Kakek saya Almarhum memberikan uang lewat ibu saya, jumlahnya Rp 20 juta, tunai di dalam amplop. "Ini uang untuk Tesya naik haji" begitu katanya. Dan 3 bulan dari kejadian itu, saya pun resmi menjadi calon jamaah haji asal Jawa Barat. Subhanalloh, jalan saya untuk naik haji saat itu sangat mudah, Alloh SWT memberikan rejeki lewat Kakek saya Almarhum.

Umroh kedua, saya niatkan "umroh badal" atas nama Kakek saya. Setelah mendapatkan ijin dari mr.husband, tekad saya pun bulat. Saya ambil wudhu di dekat Jabal Rahmah, dan turun untuk sholat sunat umroh dan melafalkan niat di Masjid Jirannah. Mr.husband karena kondisi kakinya, tidak mungkin ikut umroh kedua ini.

Saya mengikuti apa yang diperintahkan Pak Ustad: turun dari bus langsung sholat Tahiyatul Masjid, Sholat Duha lalu sholat sunat umroh 2 rakaat. Keadaan masjid penuh sesak, saya lihat kiri dan kanan, rupanya saya terpisah dari rombongan. Selesai sholat saya kembali ke bus di bawah terik matahari sekitar 40 derajat. Hati mulai was-was mungkinkah bus saya sudah berpindah tempat? Saya pasrah, sendirian mencoba mencari bus di tempat saya turun, dan Alhamdulillah bus kami ada di sana.

Di depan Masjid Jirannah, banyak sekali penjual yang menjajakan berbagai makanan ataupun oleh-oleh khas Arab. Katanya di daerah ini banyak copet, saya tidak tahu betul atau tidak. Yang pasti, saya turun tidak membawa dompet. Entah mengapa lama sekali, rombongan kami baru kembali ke bus. Menurut cerita ibu-ibu satu rombongan, saat mereka mengambil wudhu, penuh sesak! Kemudian saya paham, mengapa Pak Ustad meminta kami wudhu di Arafah.


Group kami di depan Sheraton Makkah


Kami kembali ke hotel untuk makan siang dan beristirahat sejenak. Lalu jam 2 siang, di bawah matahari yang membakar kota Makkah, kami berjalan ke Masjidil Haram dari tempat kami menginap yaitu Hotel Sheraton Makkah. Kami melakukan tawaf dan berjalan di bukit Shofa dan Marwah, sempat sholat Ashar di bukit Shafa. Alhamdulillah rangkaian ibadah umroh kedua selesai saya lakukan.

Tidak, saya kemudian tidak bertemu melalui mimpi dengan Kakek saya Almarhun, walaupun sebetulnya saya sangat ingin bertemu. Alloh SWT kemudian mengembalikan memori Kakek saya saat kami tiba di Madinnah.

Selesai check-in, kami naik ke kamar masing-masing, dan begitu pintu lift terbuka, seisi ruangan adalah wangi khas rumah Kakek saya Almarhum. Mungkin ini hanya kebetulan, namun saya merasakan bahagia yang luar biasa. Seakan dengan ijin Alloh SWT, Kakek saya berada sangat dekat dengan saya! Semoga Alloh SWT menerima ibadah umroh badal saya, untuk Kakek saya Almarhum. Aamiin :)

Sudah tau mau umroh badal untuk siapa jika teman-teman menjalankan umroh kedua nanti?


Tentang Memilih Tour Untuk Umroh


Saya perlu menulis ini, karena banyak teman yang bertanya di IG, baik langsung via komen pada postingan saya, ataupun lebih personal melalui Direct Message.

Can you spot my purple hat?


Ini adalah pengalaman umroh pertama kami, dan kami tidak membandingkan terlebih dulu travel A vs travel B. Dari dulu "top of mind" Umroh Travel untuk saya adalah Megacitra, yang berkantor pusat di Jalan Cimandiri Bandung. Namun di Jakarta pun sudah ada kantor perwakilannya, yaitu di ruko seberang Dharmawangsa Square, samping kantor Air Asia.

Kebetulan ketika kami berencana umroh, saat itu sedang ramai kasus First Travel. Wah, tambah aja saya hanya ingin yang sudah pasti saja. 

Travel apapun yang teman-teman pilih, menurut saya highlight perjalanan umroh adalah Pak Ustad pembimbing yang resourceful and knowledgable. Alhamdulillah, dengan Megacitra Group ini, ibadah kami terasa sangat nikmat dengan pembimbing yang sangat mumpuni kompetensinya.

Awalnya saya mendaftar untuk Umroh Megacitra, namun karena waktu yang tidak pas, saya ditawarkan mengikuti Umroh Topaz, "kelas dua-nya" Megacitra. Teh Rini, staff Megacitra di Jakarta mengingatkan saya, "Bu, hotelnya beda dengan Megacitra, mungkin agak jauh. Di Makkah nya Sheraton." And I was like, what.. kelas duanya aja Sheraton? Memang tidak sedekat hotel bintang lima yang ada di Zam Zam Tower itu, namun jarak sekitar 600 meter was acceptable dengan pelayanan prima sekelas Sheraton.


Welcome drink setiap setelah sholat Dzuhur

Makan pagi kami di Sheraton Makkah


Di Madinnah, hotel kami, Dar Al Eiman Al Manar, lokasinya premium, di seberang Movenpick Hotel. Namun keadaan hotel jauh lebih sederhana daripada Sheraton Makkah. Dari segi makanan pun saya sama sekali tidak bisa makan, karena kondisi yang terlalu ramai, menyebabkan restoran berantakan dan saya tidak betah. Maaf, dalam beberapa hal, yes I am very picky. Semoga ini menjadi perhatian manajemen Megacitra ke depan, untuk kenyamanan jamaah umroh Topaz berikutnya.

Kalau saya sih, setelah memutuskan tidak bisa makan di hotel di Madinnah, ya saya jajan Shwarma seharga SR5, hampir dua kali sehari. Dan malamnya saya makan Al Baik, itu loh semacam KFC made in Arab yang menurut saya enak banget walau antreannya parah:D


Sampe Babang Arabnya udah hafal sama sayah:D

Duh Shawarma, kenapa kamu enak banget..
The legend: Al Baik!



Nikmatnya Sholat Tahajud di Masjidil Haram

Saya tidak akan pernah lupa perasaan nikmat dan bahagia, bisa keluar hotel jam 3 pagi, jalan kaki berdua bersama mr.husband untuk melaksanakan sholat tahajud di Masjidil Haram. Alarm biologis kami, selalu membuat kami terbangun jam 2.30 pagi. Lalu kami bersiap dan berjalan menuju Masjidil Haram.


Dari hotel menuju masjid


Pada jam 3 pagi, tetap saja kondisi di jalan dan di pelataran Masjidil Haram penuh. Kota Makkah ini a real city that never sleep. Kami lalu naik ke rooftop dengan eskalator, untuk bisa sholat tahajud di bawah langit Makkah. Udara yang dingin bisa kami tahan, sampai dengan menjelang adzan Subuh, kami pun turun ke bagian masjid yang tertutup untuk mencari kehangatan.

Suatu hari, saya ajak mr.husband untuk sholat di area dekat Kabah. Tentu saja ini premium location, banyak peminatnya padahal tempat terbatas. Kami sholat tahajud hingga menunggu subuh di depan Kabah. Subhanalloh, nikmat sekali rasanya. 


Sholat di dekat Kabah
Di lantai 3 Masjidil Haram
Suasana di luar masjid, saat waktu sholat malam


***


Walaupun singkat, kunjungan ke kota Makkah ini sangat berkesan untuk kami: berjuang menyelesaikan ibadah umroh, sholat sunat dan sholat lima waktu di Masjidil Haram, dan menikmati waktu pagi setelah sholat Subuh untuk mencari cemilan roti Simit Sarayi di Hilton dan segelas kopi Starbucks di Zam Zam Clock Tower.

Semoga kita bisa diundang segera menjadi tamu Alloh SWT untuk mengunjungi kota suci Makkah. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.




Written on April 23, 2018
Follow our IG & twitter: @tesyasblog
Like our FB Fanpage: Tesyasblog
See our video on youtube: Tesya Sophianti

8 comments:

  1. abis ini lg follow IGnya mba Tesya nih

    ReplyDelete
  2. Waktu umroh badal buat bpk sy (krn sminggu sblmnya kk sy udh umroh badal buat ibu sy) abis tawaf kita sholat spn multazam. Dan subhanallah ad org indo jg. Mirippp bgtt dgn ibu sy. Dan sketika sy nangis haru. Sy bimbing dia bangun dr duduk abis doa. Seolah2 jd sy (an.bpk sy) sbelahan doa di multazam abis umroh.. Al fatihah..teriring doa buat bp ibu sy d surga. Aamiin Semoga sy umroh lg/haj bersama keluarga kecil sy..aamiin Ya Rabb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Al Fatihah Mba Erlina, terimakasih sudah sharing ceritanya disini :0

      Delete
  3. Mbaaaaa rasa ga sabar bangettttt pgn umroh akunya. Semoga ga ada halangan apa2 akhir oct ato nov nanti. Aku msh galau sih mau pake travel apa. Tp megacitra ini udh aku browsing2 jg waktu itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Fanny, semoga sehat dan lancar ya ibadahnya nanti. Duh aku kangen ingin kembali...

      Delete
  4. Jadi kangen kembali ke sana Tesya... Semuanya nikmat termasuk rasa sakit lelah dan pegal yg kita alami ya.. Kita sdh pasrah aja dan semua itu ujian buat kita, padahal semua fasilitasnya sdh termasuk nyaman buat kita ya.. Aku dan suami pun sakit sehari disana Tes, tp Allah maha baik, kita pakai air zam zam buat obat dan tidur sebentar, Alhamdulillah setelah itu segar lagi.. Thx sdh sharing ceritanya Tesya, jadi obat kangen kita, semoga Allah mengizinkan kita kembali kesana lagi ya..Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin Mba Utet, semoga kita bias segera kembali beribadah di tanah suci ya. Duh kangen :)

      Delete